Meningkatkan Kepedulian terhadap
Kelestarian Lingkungan Hidup melalui Pemilahan Sampah Mandiri
Oleh:Marita Ahdiyana
FISE UNY Abstrak
Hampir
seluruh kegiatan yang dilakukan manusia tidak luput dari menghasilkan bekas
atau sisa kegiatan atau dengan kata lain adalah sampah. Tanpa disadari manusia adalah
penghasil sampah, dan apabila pengelolaannya tidak diperhitungkan, maka sampah
akan menimbulkan banyak masalah. Sehingga kesadaran manusia akan sampahsangat
penting artinya untuk memberikan sumbangan pada kelestarian lingkungan dan
hidup
manusia sendiri.Sebagai salah satu sumber sampah, setiap rumah tangga perlu
ikut berperan dalam menangani sampah. Jika dilakuka bersama dengan segenap
masyarakat, upaya menangani sampah dapat memberi manfaat yang besar bagi kebersihan
lingkungan dan kesehatan masyarakat. Salah
satu proses penting untuk melakukan perubahan adalah melalui pemahaman dan
pengetahuan.Artikel ini akan membahas pentingnya kepedulian terhadap
kelestarian lingkungan hidup, pentingnya kesadaran pengelolaan sampah rumah
tangga melalui pemilahan sampah mandiri, serta sumbangan pemilahan sampah
mandiri bagi kelestarian lingkunganhidup.
Kata
Kunci: Sampah, Pemilahan Sampah, Kelestarian Lingkungan Hidup.
Pendahuluan
Hampir
semua aktivitas yang dijalankan manusia pada akhirnya bermuara pada meninggalkan
bekas atau sisa kegiatan yang berupa sampah. Mulai dari kegiatan rumah tangga
seperti memasak, hingga perbaikan rumah, penggunaan produk-produk seperti
produk mandi, makan dan lain sebagainya. Sehingga manusia adalah penghasil
sampah yang utama, dan jika pengelolaannya diabaikan, maka sampah akan menimbulkan
permasalahan
lingkungan yang serius. Sehingga kesadaran manusia akan sampah sangat penting
artinya untuk memberikan sumbangan pada kelestarian lingkungan dan hidup manusia
sendiri.Pada akhir 2009, sampah perkotaan di Kota Yogyakarta yang kemudian
diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) Piyungan Bantul, DIY, mencapai 285
ton per hari.
Volume
tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan rata-rata produksi sampah
sepanjang 2004-2005, yang mencapai 300 ton per hari ( Radar Jogja, 30 Juni 2010.
Menurut Suyana, selaku Kepala Badan Lingkungan hidup (BLH ) KotaYogyakarta,
penurunan jumlah tersebut antara lain disebabkan oleh keberhasilan pengelolaan
sampah organik di tingkat komunal dengan memperbanyak komposter. Dari
pengalaman tersebut pihak BLH mematok target, hingga 2011 nanti produksi sampah
bisa berkurang sebesar 30 persen. Sehingga pemerintah mengajak keterlibatan
masyarakat
melakukan
pola memilah dan memilih sampah serta mengelola sampah mandiri di tingkat terkecil
yaitu rumah tangga. Karena manusia dapat memberikan sumbangan yang sangat bermanfaat
bagi kelestaraian lingkungan dimulai dari mengelola sampah rumah tangganya.
Pada awal tulisan ini akan dibahas
tentang pentingnya kepedulian terhadap lingkungan hidup, pentingnya kesadaran
pengelolaan sampah rumah tangga melalui pemilahan sampah, serta sumbangan
pemilahan sampah rumah tangga secara mandiri bagi kelestarian lingkungan hidup.
Pentingnya Kepedulian terhadap Kelestarian Lingkungan
Hidup
Menurut UU
No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup,
lingkungan
hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup
termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan
dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Unsur-unsur lingkungan
hidup dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
Ø
Unsur Hayati (biotik) : yaitu unsur
lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup,seperti manusia, hewan,
tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik.Unsur Sosial Budaya : yaitu lingkungan sosial
dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan
keyakinan dalam perilaku sebagai makhluksosial.
Ø Unsur
Fisik (abiotik) : yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak
hidup, seperti tanah, air, udara, iklim dan lain-lain.Secara khusus, kita
sering menggunakan istilah lingkungan hidup untuk menyebutkan segala sesuatu
yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup segenap makhluk hidup di muka
bumi. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan
hidup segenap kehidupan di bumi. Karena kehidupan di muka bumi akan berlangsung
secara wajar jika lingkungan fisik tetap terjaga keseimbangannya.
Kerusakan
lingkungan fisik akan mengakibatkan banyak bencana yang dapat mengancam keselamatan
manusia seperti kekeringan, banjir, tanah longsor, perubahan musim yang tidak
teratur, dan munculnya berbagai penyakit.
Berdasarkan faktor
penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis,
yaitu:
Kerusakan
lingkungan hidup akibat peristiwa alam seperti: letusan gunung berapi,gempa
bumi, angin puting beliung Kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia Manusia
sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan
kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal
budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk
kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan
manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi
berikutnya. Banyak kemajuan yang diraih oleh manusia membawa dampak
buruk
terhadap kelangsungan lingkungan hidup. Beberapa bentuk kerusakan lingkungan
hidup karena faktor manusia, antara lain:
Terjadinya
pencemaran (baik pencemaran udara, air, tanah, maupun suara) sebagai dampak
adanya kawasan industri.Terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase
atau sistem pembuangan air dan kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan
dampak pengrusakan hutan.Terjadinya tanah longsor, sebagai dampak langsung dari
rusaknya hutan.
Selain
hal-hal tersebut, juga ada beberapa ulah manusia yang bersifat langsung maupun
tidak langsung membawa dampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain: penebangan
hutan secara liar (penggundulan hutan). perburuan liar, merusak hutan bakau,
penimbunan rawa-rawa untuk pemukiman, pembuangan sampah di sembarang tempat,
bangunan liar di daerah aliran sungai (DAS), serta pemanfaatan sumber daya alam
secara berlebihan di luar batas. Melestarikan lingkungan hidup merupakan
kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi dan bukan hanya menjadi tanggung jawab
pemerintah atau pemimpin negara saja,melainkan tanggung jawab setiap insan di
bumi, dari balita sampai manula. Setiap orang
harus
melakukan usaha untuk menyelamatkan lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan
kapasitasnya masing-masing. Sekecil apa pun usaha yang kita lakukan sangat besar
manfaatnya bagi terwujudnya bumi yang layak huni bagi generasi anak cucu kita kelak.
Sebagai
warga negara yang baik, masyarakat harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap
kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan
masingmasing.Beberapa upaya yang dapat dilakukan masyarakat berkaitan dengan
pelestarian lingkungan hidup antara lain: pelestarian tanah dan pelestarian
udara, salah satunya
dengan
kepedulian terhadap pengelolaan sampah rumah tangga secara mandiri.
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Melalui Pemilahan Sampah
Mandiri :
Sering
tidak kita sadari bahwa sampah yang kita hasilkan dalam kegiatan hidup sehari-hari
dapat menimbulkan permasalahan yang serius terhadap kelestarian lingkungan.
Karena sampah tersebut memakan waktu yang cukup lama untuk dapathancur atau
bahkan sama sekali tidak dapat hancur. Tabel berikut ini menggambarkan perbandingan
lamanya sampah organik dan non-organik hancur:
Tabel 1
Jenis Sampah dan Lama Hancur
Jenis
Sampah Lama Hancur
Kertas
Kulit
Jeruk
Dus
Karton
Filter
Rokok
Kantong
Plastik
Kulit
Sepatu
Pakaian/Nylon
Plastik
2-5
6
bulan
5
bulan
10-12
tahun
10-20
tahun
25-40
tahun
30-40
tahun
50-80
tahun
5
Alumunium
Styrofoam
80-100
tahun
Tidak
hancur
Dari
tabel tentang lama hancur sampah diatas, dapat diperoleh gambaran bahwa andil
setiap warga masyarakat sangat diperlukan untuk mau mulai peduli dengan pengelolaan
sampah terutama sampah rumah tangganya. Kehadiran sampah rumah tangga dalam
lingkungan kita merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan, hal ini terjadi
karena setiap kegiatan manusia pasti akan mendatangkan sampah.Menurut Kamus
Terbaru Bahasa Indonesia, sampah adalah barang atau sesuatu yang tidak dipakai
lagi sehingga dibuang ( 2008: 569 ). Selain itu, Manik (2004:67),mendefinisikan
sampah sebagai suatu benda yang tidak digunakan atau tidak dikehendaki
dan
harus dibuang, yang dihasilkan oleh kegiatan manusia. Sedangkan Nugroho, dkk (2007)
berpendapat bahwa sampah adalah bahan sisa atau produk sampingan dari kegiatan
manusia yang sudah tidak berguna dan kemudian dibuang (waste), sehingga bisa menyebabkan
gangguan estetika, kerusakan dan pencemaran lingkungan, atau mengandung unsur
berbahaya, serta dapat mengganggu kelestarian dan kesehatan kehidupan manusia
dan lingkungan. Tanjung mengemukakan sampah sebagai sesuatu yang tidak berguna
lagi yang dibuang oleh pemiliknya atau pemakainya semula (Tandjung, 1989 dalam
Prihanto, 1996:7). Sedangkan, Apriadji (1991: 3) berpendapat bahwa sampah dapat
dimaknai sebagai bahan padat sisa proses industri atau sebagai hasil
sampingan kegiatan rumah
tangga :
Manik,
(2004: 67) juga membagi jenis sampah berdasarkan zat pembentuknya, yang dibedakan
menjadi 2 yaitu sampah organik dan sampah anorganik:
Sampah organik
:
Sampah
yang terdiri dari bahan penyusun hewan dan tumbuhan digolongkan ke dalam sampah
organik. Selain hewan dan tumbuhan juga ada komponen lainnya yaitu sisa makanan
dan kertas.
Sampah anorganik :
Sampah
yang berasal dari sumberdaya alam tak terbaharui digolongkan kedalam sampah
anorganik, seperti mineral, eksplorasi minyak dan proses industri. Pada umumnya
sampah ini tidak dapat diuraikan atau sulit diuraikan secara alami.Sedangkan
Apriadji (1991: 3), mengelompokkan sampah rumah tangga menjadi dua golongan,
yaitu:
Sampah
lapuk yaitu merupakan sampah yang mudah terurai secara alami (garbage)yang merupakan
sisa pengolahan atau sisa – sisa makanan dari rumah tangga ataumerupakan hasil
sampingan kegiatan pasar bahan makanan, seperti sisa sayur mayur.Sampah tidak
lapuk dan sampah tidak mudah lapuk yaitu sampah yang tidak mudah terurai secara alami (rubbish). Sampah tidak
lapuk merupakan sampah yang tidak akanbisa lapuk secara alami meskipun telah
bertahun - tahun, seperti plastik, kaca, dan
mika. Sedangkan, sampah tidak mudah lapuk adalah sampah yang
akan bisa lapuk
perlahan
- lahan secara alami. Sampah tidak mudah lapuk ini dapat pisahkan menjadi sampah
yang bisa dibakar seperti kertas, kayu, dan sampah tidak mudah lapuk yang tidak
bisa dibakar, seperti kaleng dan kawat.
Lebih
lanjut dikemukakan Apriadji bahwa pembuangan sampah terangkai dari
kegiatan
sebagai berikut:
Penampungan
sampah (refuse storage)
Pengumpulan
sampah (refuse collection)
Pembuangan
sampah (refuse disposal)
Untuk
pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu:
Pembakaran
sampah (inceneration):
merupakan pembakaran sampah yang dilakukan di tempat tertutup dengan mesin dan
peralatan yang khusus dirancang untuk pembakaran sampah.
Penumpukan
( dumping):
merupakan penumpukan sampah di atas tanah terbuka begitu saja tanpa ada
perlakuan.
Penimbunan
berlapis ( sanitary landfill):
merupakan penimbunan sampah dengan tanah, sampah ditimbun secara berlapis
sehingga tidak ada sampah yang tampak di permukaan tanah.
Pengomposan
(composting)
: merupakan pemanfaatan sampah organik menjadi bahan kompos.
Pemilahan
dapat dimaknai sebagai upaya untuk memisahkan sekumpulan
dari"sesuatu" yang sifatnya heterogen menurut jenis atau kelompoknya
sehingga menjadi beberapa golongan yang sifatnya homogen. Sampah rumah tangga
adalah segala sesuatu baik berupa bahan atau benda yang sudah tidak mempunyai
nilai lagi. Dengan demikian pemilahan sampah dapat diartikan sebagai suatu
proses kegiatan penanganan sampah sejak dari sumbernya dengan memanfaatkan
penggunaan sumber daya secara efektif yang diawali dari pewadahan,
pengumpulanan, pengangkutan, pengolahan, hingga pembuangan, melalui
pengendalian pengelolaan organisasi yang berwawasan lingkungan sehingga dapat
mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan yaitu lingkungan bebas
sampah.
Dalam
melakukan pengolahan sampah, untuk memudahkan penguraian maka pemilahan sampah
dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
Memisahkan
sampah berdasarkan jenisnya.Sampah dapat dibagi menjadi dua macam, yakni (a)
Sampah yang mudah membusuk,
contoh:
sisa sayuran, kulit buah, potongan ayam atau daging, daun-daunan, dan lain sebagainya. (b) Sampah yang tidak mudah
membusuk, contoh: kertas bekas, kaleng susu, pecahan kaca, dan lain sebagainya.
Pemilahan sampah ini dapat berguna dan
selain itu memberikan keuntungan, yakni sampah yang diolah menjadi pupuk
sehingga dapat dijual. Sampah yang dijual ke tukang loak dapat menambah uang
belanja atau uang saku anak. Selain itu, wadah sampah rumah tangga pun tidak
cepat menumpuk dan penuh
ditambah
lagi mengurangi jumlah sampahyang dibuang ke tempat penampungan sementara.
Sebaiknya
sampah dibuang di tempat tertutup, hal ini agar tidak menimbulkan bau tidak
sedap, tidak mengundang lalat, tikus, kecoak, tidak bertebaran, dan tidak
mengotori lingkungan juga mudah diangkut untuk dibuang ke tempat penampungan
sementara.Memulai kebersihan tidak perlu menunggu para petugas sampah beserta
gerobaknya untuk kerumah, ataupun menunggu ajakan pembantu rumah tangga. Namun
dapat dilakukan dengan membagi dua tempat sampah kita, dengan melakukannya
secara disiplin dan tanpa terasa selain rumah menjadi bersih, lingkungan juga
menjadi nyaman.
Penting Sampah yang mudah membusuk seperti kulit telur, daun, kulit
buah, sisa sayuran,dan lain sebagainya, dapat dijadikan pupuk.
Sampah yang tidak mudah membusuk seperti kaleng, bekas
shampoo, sabun cair,botol, kertas,
dan sebagainya dapat dijual ke tukang loak.
Sedangkan sampah yang tidak berguna dibuang atau ditimbun
dalam tanah.
|
Sumbangan Pemilahan Sampah Mandiri bagi Kelestarian
Lingkungan Hidup.
Setiap
hari manusia menghasilkan sampah baik yang merupakan sampah rumah
tangga maupun sampah industri yang bermacam-macam bentuk dan
jenisnya. Sampah jika tidak diurus dan dikelola dengan baik dapat menyebabkan
masalah lingkungan yang sangat merugikan. Sampah yang menumpuk dan membusuk
dapat menjadi sarang kuman dan binatang yang dapat mengganggu kesehatan manusia
baik badan maupun jiwa, sertamengganggu estetika lingkungan karena
terkontaminasi.
Hal
tersebut juga semakin menimbulkan masalah, karena kesadaran masyarakat
tentang
pengelolaan sampah masih sangat rendah. Sebagai contoh, masyarakat hampir tidak
pernah memikirkan jenis-jenis sampah dan bagaimana pengelolaannya yaitu
mencampurkan saja semua sampah organik dan non-organik menjadi satu. Sehingga
pembusukan yang terjadi pun tidak dapat dilakukan dengan sempurna.
·
Sampah
organik
tidak akan
bermasalah karena dia akan terdaur ulang dengan alam. Sedangkan
·
sampah
non-organik
membutuhkan
ribuan tahun untuk menetralisirkannya. Semakin banyak
bertumpuk
kertas, plastik, karet dan bahan non-organik lainnya, semakin riskan bumi kita
terjaga kelestariannya.
Berikut
ini adalah gangguan-gangguan yang ditimbulkan oleh sampah yang tidak dikelola
dengan baik:
Gangguan
estetika, atau dengan kata lain mengurangi atau mengganggu kenyamanan,karena
menimbulkan bau tak sedap, mengotori sumber air, dan mengganggu pemandangan.
Mendorong
terjadinya banjir. Bila kita membuang sampah pada saluran air buanganatau
sungai, maka sampah dapat menyumbat saluran tersebut. Jika pada musim kemarau
sampah akan mengganggu kenyamanan, maka pada musim penghujan sampah dapat
menyebabkan banjir. Ketika banjir, sampah terbawa air dan dapat menyebabkan
kerusakan pada jalan atau mengotori lingkungan.Dapat menimbulkan kecelakaan,
misalnya sampah seperti kaleng bekas, pecahan kaca,dan paku dapat menimbulkan
luka.Sarang kuman penyakit. Sampah yang menumpuk dapat menjadi sarang cacing,
lalat,tikus, nyamuk, kecoa yang dapat menyebabkan ataupun menularkan
penyakit.Beberapa penyakit yang timbul karena sampah diantaranya sakit saluran
pencernaan seperti muntaber, mencret, disentri, tipus, dan juga kecacingan.
Sampah juga dapat menyebabkan sakit demam berdarah dan penyakit “kaki gajah”,
serta sakit kulit Sebagai wujud kepedulian kita terhadap kelestarian
lingkungan, kita dapat memulai mengawali langkah kepedulian kita dengan hal
yang sederhana. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mulai memisahkan sampah
rumah tangga yang merupakan sampah organik
dan sampah non-organik. Manajemen
yang baik untuk pengelolaan sampah tersebut, jika dilakukan oleh masyarakat
mulai dari tingkat rumah tangga, akan sangat besar sumbangannya bagi
kelestarian lingkungan. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam mengelola
tempat
sampah
rumah tangga : Memisahkan sampah kering / non organik
dengan sampah basah / organik dalam wadah plastik.Tempat sampah harus
terlindung dari sinar matahari secara langsung,
hujan,angin Menjaga tempat
sampah agar tidak menjadi menjadi sarang binatang seperti kecoa,lalat,
belatung, semut tikus dan lain-lain
Jika
membuang sampah sebaiknya dalam kemasan plastik yang tertutup rapat agar tidak mudah berserakan dan mengeluarkan
bau yang tidak sedap. Selain itu jugamemudahkan tukang sampah dalam mengambil
sampah.
Tempat sampah harus tertutup dan aman dari
segala gangguan.
Jangan
membakar sampah di lingkungan padat penduduk karena dapat mengganggu kenyamanan
dan kesehatan orang lain Selain itu, setiap rumah tangga dan anggota
keluarga dapat melakukan banyak hal keciltetapi berarti bagi
lingkungan,
diantaranya adalah:
Ø Saat
berbelanja, biasakan membawa tas belanja sendiri agar tidak memerlukan tas plastik
lagi
Ø Saat
hajatan, arisan, jamuan atau kumpul keluarga usahakan untuk tidak menggunakan plastik/Styrofoam/kardus untuk
menempatkan makanan dan minuman. Gunakanlah gelas, piring atau cangkir yang
dapat dipakai berulangkali, dan jika mungkin gunakan
Ø daun
untuk membungkus kue. Makan dengan cara prasmanan lebih cocok. Atau
Ø pakailah
piring dari anyaman lidi daun lontar yang diberi alas kertas atau daun, sehinga
dapat dipakai berulang kali.
Ø Saat
di kantor, hematlah kertas, dengan membiasakan memakai kertas atau fotokopi secara
bolak balik. Dengan menghemat kertas, berarti kita membantu mengurangi jumlah
pohon yang harus ditebang. Saat kenaikan kelas, buku-buku lama yang tidak diminati
dapat diserahkan ke perpustakaan. Buku petunjuk telepon lama dapat diberikan
kepada tukang sayur untuk membungkus dagangannya. Kumpulkan sisa halaman dari
buku tulis yang masih bersih, beri lubang, ikat dan beri sampul sehingga
menjadi buku tulis yang baru.
Di
tingkat masyarakat, para ibu kader, ketua RT, ketua RW dan pemuda/pemudi perlu bekerjasama
membiasakan warga hidup secara ramah lingkungan.
Misalnya:
Sesekali mengadakan acara mengumpulkan barang
yang sudah tidak terpakai dan biarkan orang
yang membutuhkan untuk mengambil dan menggunakannya secara gratis atau
dengan harga murah.Pemilahan sampah
mulai dari rumah tangga, dilanjutkan dengan pusat daur ulang sederhana.
Usulkanlah di lingkungan tempat tinggal agar diadakan suatu pusat daur ulang.
Ø Sebelum
kegiatan :
Kerjabakti
secara berkala untuk mengumpulkan sampah dan membersihkan selokan.Demi
kesehatan, jangan lupa menggunakan sarung tangan, atau kantung plastik yang diikat
di pergelangan tangan. Jangan lupa pula untuk mencuci tangan dengan sabun
Ø sesudah
kegiatan :
Sampah
rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik dapat menimbulkan dampaknegatif
bagi kehidupan manusia dan lingkungannya, karena bisa menimbulkan berbagai penyakit
dan polusi. Sedangkan sampah rumah tangga yang dikelola dengan baik dapat memberikan
manfaat dan hasil yang menguntungkan bagi kehidupan manusia dan keseimbangan
lingkungan. Sehingga ancaman bencana seperti lingkungan yang tidak sehat,
polusi penyebaran kuman penyakit, maupun banjir dapat dihindarkan.
Daftar Pustaka
Apriadji,
Wied Harry. 1991. Memproses Sampah.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Kamus
Terbaru Bahasa Indonesia. Dilengkapi dengan Ejaan yang Disempurnakan( EYD). 2008. Surabaya: Reality Publisher.
Manik,
Karden Eddy Sontang. 2004. Pengelolaan
Lingkungan Hidup. Jakarta: Djambatan Modul Pelatihan
Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat, Substansi: ESP DKI Jakarta Environmental
Services Delivery Desain: Program Communication bekerjasama dengan USAID dalam
http://www.esp.or.id/wp-content/uploads/pdf/devtools/modulcbswm-hi.pdf, diakses
tanggal 1 Agustus 2010
Modul
Pelatihan: Kesehatan Lingkungan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga. 2005. Wahana
Visi Indonesia dan FKM Universitas Airlangga.
http://www.mitrariset.com/2010/08/koleksi-132.html.
Diakses tanggal 1 Agustus 2010 Nugroho, Karyadi, dkk. 2007. Laporan Penelitian: Manajemen Pemilahan Sampah di Stasiun
Tugu Yogyakarta Tahun 2007, dalam
http://uripsantoso.wordpress.com/2008/12/22/pentingnya-pemilahan-sampah/,
diakses tanggal 27 Februari 2010, pukul 14.10.
Outerbridge.
1991. Limbah Padat di Indonesia:
Masalah atau Sumber Daya? Jakarta:Yayasan
Obor Indonesia.
Radar
Jogja, Senin, 22 februari 2010. Memperingati
Hari Sampah. Siswanto, H.B. 2009. Pengantar Manajemen. Jakarta:
Bumi Aksara

Tidak ada komentar:
Posting Komentar